Artikel

Dapatkan Artikel  terbaru setiap harinya

New Ways of Working Series

Dalam menghadapi gelombang transformasi digital yang mengubah lanskap industri perbankan, menjadi penting untuk terus meningkatkan kapasitas individu dalam organisasi dan cara kerja ( New way of working ) agar senantiasa adaptif, tangkas, dan tetap relevan.

Jika konteksnya BNI menekankan pentingnya

  1. Future-ready capability.
  2. Berorientasi pada pengguna.
  3. Kolaborasi yang efektif

Melompat lebih tinggi dengan Stakeholder Management

Menurut World Economy Forum perusahaan termasuk bank perlu mempertimbangkan kepentingan semua stakeholder ( nasabah, karyawan, masyarakat, dll. ) untuk mencapai keberlanjutan dan kinerja jangka panjang yang baik.

Apa itu Stakeholder ?

Stakeholder dikelompokkan menjadi internal dan eksternal. Stakeholder internal adalah stakeholder yang berada di dalam lingkungan organisasi seperti karyawan, manajer, dan pemegang saham. Sedangkan stakeholder eksternal adalah stakeholder yang berada di luar lingkungan organisasi seperti penyalur atau pemasok, konsumen atau pelanggan, masyarakat, pemerintah, pers, dan sebagainya.
  • Prof. Rhenald Kasali, PhD ( Founder Rumah Perubahan )

Mengidentifikasi dan Mengklasifikasikan Stakeholder

Analisis stakeholder merupakan langkah penting dalam manajemen proyek yang membantu memahami siapa saja yang terlibat atau terpengaruh oleh proyek, serta sejauh mana mereka memiliki pengaruh dan kepentingan terhadap proyek tersebut. Proses ini memungkinkan tim proyek untuk memprioritaskan sumber daya dan merancang strategi manajemen yang tepat untuk setiap stakeholder. Berikut adalah langkah-langkah dalam melakukan analisis stakeholder :
  1. Mengidentifikasi Stakeholder
    Daftar Stakeholder :
    Susunlah daftar semua individu, kelompok, atau organisasi yang terlibat atau terkait dengan proyek. Stakeholder bisa mencakup tim proyek, manajemen, pelanggan, pemasok, vendor, komunitas lokal, dan lainnya.

    Kumpulkan Informasi : Kumpulkan informasi mengenai setiap stakeholder, termasuk peran mereka dalam proyek, hubungan mereka dengan proyek, dan dampak potensial proyek terhadap mereka.

    Kategorisasi Stakeholder : Kelompokkan stakeholder berdasarkan karakteristik seperti posisi dalam organisasi, tingkat keterlibatan dalam proyek, dan hubungan dengan proyek. 

  2. Menentukan Tingkat Otoritas dan Kepentingan

    Tingkat Otoritas: Tentukan sejauh mana setiap stakeholder memiliki pengaruh atau kekuasaan terhadap proyek. Tingkat otoritas dapat didasarkan pada posisi hierarki, kemampuan untuk mempengaruhi keputusan, atau kontrol atas sumber daya proyek.

    Tingkat Kepentingan: Tentukan sejauh mana setiap stakeholder memiliki kepentingan dalam proyek. Kepentingan dapat didasarkan pada dampak proyek terhadap tujuan, nilai, atau kebutuhan mereka.

    Pemetaan Stakeholder: Gunakan matriks kepentingan-otoritas untuk memvisualisasikan hubungan antara stakeholder dan proyek. Matriks ini membagi stakeholder ke dalam empat kuadran:

    • Kuadran 1 : Tinggi otoritas, tinggi kepentingan
    • Kuadran 2 : Tinggi otoritas, rendah kepentingan
    • Kuadran 3 : Rendah otoritas, tinggi kepentingan
    • Kuadran 4 : Rendajh otoritas, rendah kepentingan

    Prioritaskan Stakeholder: Berdasarkan hasil pemetaan, prioritaskan stakeholder dengan tingkat otoritas dan kepentingan tinggi untuk mendapatkan perhatian lebih dalam interaksi dan komunikasi.

    Stakeholder Mapping Mapping Matri

    Kuadran 1: Tinggi otoritas, Tinggi Kepentingan (Stakeholder Kunci)

    Diperlukan interaksi aktif dan komunikasi yang intensif dengan mereka untuk memastikan dukungan dan partisipasi mereka dalam proyek.

    Kuadran 2: Tinggi otoritas, Rendah Kepentingan (Tetap Puaskan)

    Penting untuk menjaga keterlibatan mereka dengan memberikan informasi yang relevan untuk memastikan mereka merasa diperhatikan dan tetap puas.

    Kuadran 3: Rendah otoritas, Tinggi Kepentingan (Tetap Beri Informasi)

    Mereka sangat terpengaruh oleh proyek, sehingga perlu diupayakan untuk terus memberikan informasi yang transparan dan jelas mengenai perkembangan proyek.

    Kuadran 4: Rendah otoritas, Rendah Kepentingan

    Berikan informasi secara berkala untuk memastikan mereka mengetahui perkembangan dasar proyek.


    Overview

    Manajemen stakeholder yang efektif merupakan kunci untuk mencapai keberlanjutan dan kinerja jangka panjang yang optimal, karena dengan mempertimbangkan kepentingan semua pihak yang terkait, perusahaan dapat memastikan operasi yang lebih stabil dan berdampak positif bagi semua pihak yang terlibat.

    Old friends pass away, new friends appear. It is just like the days. An old day passes, a new day arrives. The important thing is to make it meaningful: a meaningful friend – or a meaningful day. – Dalai Lama

Merancang Produk Perbankan yang sesuai dengan kebutuhan UMKM

Peran UMKM sangat besar untuk pertumbuhan perekonomian Indonesia, dengan jumlahnya mencapai 99% dari keseluruhan unit usaha. Pada tahun 2023 pelaku usaha UMKM mencapai sekitar 66 juta. Kontribusi UMKM mencapai 61% dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia, setara Rp9.580 triliun. UMKM menyerap sekitar 117 juta pekerja (97%) dari total tenaga kerja.

(Sumber data: Kadin Indonesia)


Tantangan UMKM ke depan yang harus diatasi bersama oleh segenap stakeholders terkait  khususnya perbankan


Jenjang Karir Berwirausaha dan Tantangannya

Usaha Menengah (7 dari 10,000 pelaku UMKM)
Omset: Rp 25 miliar - Rp 50 miliar per tahun
Tantangan: Ingin berinvestasi, tetapi tidak tahu cara yang aman dan menguntungkan.

Usaha Kecil (3 dari 10,000 pelaku UMKM)
Omset: Rp 4,8 miliar - Rp 15 miliar per tahun
Tantangan: Membutuhkan modal ekspansi (capital expenditure) tetapi tidak memiliki agunan.

Usaha Mikro (3 dari 1,000 pelaku UMKM)
Omset: Rp 300 juta - Rp 2 miliar per tahun
Tantangan: Untuk ekspor, ingin transaksi aman menggunakan LC, tetapi komisinya mahal (2,5%-5% dari nilai transaksi).

Usaha Ultra Mikro (987 dari 1,000 pelaku UMKM)
Omset: Rp 20 juta - Rp 300 juta per tahun
Tantangan: Transaksi TT memiliki waktu penyelesaian yang lama (2-5 hari) dan tidak ada jaminan keberhasilan.

Mendesain produk perbankan yang sesuai dengan kebutuhan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) melalui pendekatan Design Thinking adalah langkah tepat. Design Thinking adalah sebuah metodologi yang berfokus pada pemahaman mendalam tentang pengguna dan masalah mereka, serta menciptakan solusi yang berpusat pada pengguna.


Solusi perbankan untuk mengatasi tantangan, melalui proses Design Thinking

  • Menyediakan layanan konsultasi investasi untuk memberikan panduan dan strategi investasi yang aman dan menguntungkan. Bank juga bisa menawarkan produk investasi yang sesuai dengan profil risiko usaha menengah.

  • Mengembangkan program pinjaman tanpa agunan atau dengan agunan minimal yang khusus ditujukan untuk usaha kecil, serta memberikan akses ke kredit usaha rakyat (KUR) dengan bunga rendah.

  • Menawarkan layanan Letter of Credit (LC) dengan biaya yang lebih terjangkau dan memberikan program subsidi untuk usaha mikro yang melakukan ekspor. Bank juga bisa menyediakan layanan pelatihan tentang pengelolaan transaksi ekspor.

  • Mempercepat proses transaksi Telegraphic Transfer (TT) dengan teknologi terbaru dan memberikan jaminan keberhasilan transaksi. Bank juga bisa menawarkan alternatif pembayaran yang lebih cepat dan efisien untuk usaha ultra mikro


 


Sebagai mesin penggerak roda ekonomi, bank harus mampu mengidentifikasi dan mengoptimalkan peluang secara lebih seksama - Dewi Meisari (Founder - UKMIndoensia.id)


Meningkatkan Literasi Keuangan untuk Pertumbuhan UMKM

“Tools Pintar: Membuat Resolusi Akhir Tahun Lebih Terukur dengan 5 Kriteria SMART”​​

Menggunakan Tools PDCA Cycle sebagai Alat Evaluasi bagi Seorang Leader

Contact Us

0811-2233-3132
hallo@thelocalenablers.id
designthinkingacademy.id
 designthinkingacademy  

© 2024 | Design Thinking Academy

Scroll to Top