Persoalan sosial di Kalimantan semakin kompleks. Isu lingkungan, akses pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi terus berkembang. Namun, satu hal mulai terlihat jelas. Cara lama tidak lagi cukup. Di sinilah Borneo Impact Developer atau BID hadir. Program ini dirancang untuk membantu mahasiswa menjadi problem solver. Mereka belajar menciptakan inovasi sosial yang berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat.
Pesertanya berasal dari berbagai perguruan tinggi di Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan. Selain itu, mereka juga didampingi oleh praktisi dan pelaku industri. Dengan begitu, pembelajaran tidak hanya teoritis, tetapi juga relevan dengan kondisi nyata. Program ini berjalan secara daring. Namun demikian, pendekatannya tetap interaktif. BID menggabungkan sesi live dan pembelajaran mandiri. Hasilnya, proses belajar menjadi fleksibel sekaligus aplikatif.
Dari Masalah yang Sama ke Pendekatan yang Berbeda

Selama ini, banyak inisiatif sosial dimulai dengan niat baik. Akan tetapi, tidak sedikit yang berhenti di tengah jalan. Hal ini sering terjadi karena solusi tidak berbasis kebutuhan pengguna. Selain itu, dampaknya juga sulit diukur.
Di sisi lain, perusahaan menghadapi tantangan yang berbeda. Mereka dituntut menghadirkan program CSR dan ESG yang lebih strategis. Bukan hanya terlihat baik, tetapi juga berdampak nyata.
Melalui pendekatan design thinking dan pola pikir berbasis dampak, peserta diajak untuk memahami masalah secara lebih dalam. Mereka tidak langsung mencari solusi, tetapi belajar mengurai akar masalah, memahami siapa yang terdampak, lalu merancang solusi yang masuk akal dan bisa dijalankan.
Proses ini dilakukan secara bertahap. Dimulai dari penentuan tujuan, lalu memahami pengguna, hingga mengembangkan ide. Pada akhirnya, ide tersebut dipresentasikan dalam sesi pitching. Menariknya, proses ini juga melibatkan diskusi lintas kampus. Dengan demikian, perspektif peserta menjadi lebih kaya. Pendekatan ini sejalan dengan kerangka Problem-Agitate-Solve. Masalah tidak hanya dikenali. Namun, urgensinya juga dipahami sebelum solusi dihadirkan .
Baca Artikel Lainnya:WIKA CAMP 2026: Desain Thinking dan Transformasi Inisial untuk Masa Depan Industri Konstruksi
Saatnya Perusahaan Tidak Berjalan Sendiri
Bagi perusahaan, kolaborasi seperti ini bukan lagi sekadar tambahan. Justru, ini adalah langkah strategis. Melalui program ini, perusahaan dapat terhubung dengan talenta muda yang sudah terlatih. Selain itu, perusahaan juga bisa mengakses ide-ide inovasi yang lahir dari kebutuhan nyata masyarakat.
Di saat yang sama, keterlibatan ini memperkuat komitmen keberlanjutan perusahaan. Program tidak lagi sekadar formalitas. Sebaliknya, menjadi bagian dari solusi yang hidup dan berkembang. Lebih penting lagi, perusahaan tidak perlu berjalan sendiri. Ada kampus, komunitas, dan generasi muda yang siap diajak berkolaborasi.




