Di tengah dunia profesional yang bergerak cepat dan menuntut ketepatan dalam berpikir dan bertindak, tidak sedikit dari kita yang mengalami tekanan mental akibat pikiran yang terus aktif namun tak tersalurkan. Istilah populernya: overthinking.
Overthinking tidak selalu muncul karena kurang produktif, justru sebaliknya sering kali muncul karena terlalu banyak yang ingin dikelola dalam waktu yang sempit. Tekanan performa, beban ekspektasi, hingga ketidakpastian masa depan menjadi pemicu yang umum terjadi di lingkungan kerja hari ini. Satu pendekatan sederhana namun sangat powerful untuk mengelola itu semua adalah: menulis.
Menulis: Dari Pelampiasan Emosi hingga Alat Strategis Berpikir
Banyak yang mengira menulis hanya relevan untuk profesi yang berkaitan dengan komunikasi atau pendidikan. Padahal, bagi profesional lintas bidang, menulis memiliki fungsi yang jauh lebih strategis. Ia bukan hanya sarana ekspresi, melainkan juga alat bantu berpikir.
Berikut manfaat menulis
- Menyusun ulang kompleksitas menjadi kejelasan.
Saat kita menulis, kita dipaksa memilih kata, membatasi ruang, dan menyusun logika secara runtut. Ini sangat membantu ketika menghadapi masalah kompleks yang sulit dijelaskan secara lisan. - Meningkatkan fokus dan pengambilan keputusan.
Menulis memaksa kita berhenti sejenak, merefleksi, lalu mengkristalkan gagasan. Proses ini menenangkan pikiran sekaligus mempertajam intuisi analitik. - Menjadi ruang aman untuk berpikir jujur.
Dalam menulis, kita tidak perlu tampil sempurna. Kita bisa jujur terhadap diri sendiri, terhadap ketidakpastian, bahkan terhadap kegagalan. - Mengembangkan critical thinking dan foresight.
Dengan meninjau masa lalu (hindsight), kita dapat membangun insight, memperkirakan implikasi ke depan (foresight), sekaligus menjaga fokus pada hal-hal penting (oversight).
Dari Refleksi ke Arah Tindakan
Menulis secara konsisten membantu membangun mentalitas yang lebih reflektif, tidak reaktif. Dalam konteks kerja dan kepemimpinan, ini krusial. Seorang yang mampu menjernihkan pikirannya lewat tulisan, biasanya lebih siap saat mengambil keputusan, menyampaikan ide di forum penting, atau mengevaluasi strategi jangka panjang.
Menulis tidak selalu untuk dibaca orang lain. Kadang, tulisan terbaik adalah yang hanya dibaca oleh diri sendiri. Jika Anda sering merasa pikiran terlalu penuh, mudah teralihkan, atau sulit mengungkapkan gagasan secara terstruktur, cobalah sisihkan 10 menit setiap hari untuk menulis. Bisa berupa refleksi kerja, logika di balik sebuah keputusan, atau bahkan sekadar daftar pikiran acak yang perlu dikeluarkan.




