Bandung, 15–16 Desember 2025, Dunia pendidikan tinggi sedang menghadapi dinamika yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pergeseran kebutuhan industri, percepatan teknologi, dan kompleksitas sosial menuntut institusi pendidikan untuk bergerak lebih gesit dan adaptif. Namun, pertanyaannya: apakah transformasi ini sudah benar-benar sampai ke ruang kelas?
Selama ini, perbincangan tentang reformasi pendidikan kerap berhenti di tataran kebijakan dan dokumen perencanaan. Padahal, ujung tombaknya adalah dosen. Mereka adalah aktor utama yang menjalankan perubahan tersebut secara nyata, setiap hari, bersama mahasiswa.
Untuk itu, dosen perlu lebih dari sekadar pemahaman teoritis. Mereka membutuhkan pendekatan yang konkret, terstruktur, dan berorientasi pada kebutuhan nyata mahasiswa. Inilah yang menjadi semangat dasar dari Design Thinking Certification for Educators Batch 49, program yang diselenggarakan oleh Design Thinking Academy.
Merancang Pembelajaran, Bukan Sekadar Menyampaikan Materi

Dalam dua hari pelatihan, peserta tidak hanya belajar memahami konsep Design Thinking. Mereka terlibat langsung dalam proses merancang ulang pembelajaran berbasis kebutuhan mahasiswa.
Tiga dosen dari institusi berbeda Primadi Candra Susanto (ITL Trisakti), Irma Windy Astuti (UII), dan Triana Atika Zulfa (UIN Raden Mas Said) mengikuti pelatihan ini dengan penuh antusias. Meskipun berasal dari latar belakang keilmuan yang berbeda, mereka memiliki tujuan yang sama: menciptakan pembelajaran yang lebih relevan, bermakna, dan berdampak.
Para peserta belajar menyusun:
- Profil lulusan yang bukan hanya ideal, tapi nyata dan dibutuhkan industri.
- Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) yang spesifik, terukur, dan kontekstual.
- Rencana Pembelajaran Semester (RPS) yang tidak hanya formal, tapi hidup dan fleksibel mengikuti dinamika kelas.
Dengan pendekatan human-centered design, peserta diajak memahami bahwa pembelajaran bukan sekadar menyampaikan materi. Pembelajaran adalah proses desain yang harus dimulai dari pemahaman mendalam terhadap mahasiswa siapa mereka, bagaimana mereka belajar, dan apa tantangan mereka saat ini.
Ruang Refleksi, Kolaborasi, dan Transformasi
Yang membedakan program ini dari pelatihan dosen pada umumnya adalah cara belajarnya. Tidak satu arah. Tidak penuh teori. Justru sebaliknya peserta diberi ruang untuk merefleksikan tantangan nyata yang mereka alami, lalu mendesain solusinya bersama rekan-rekan dari institusi lain.
Dalam suasana kolaboratif, setiap peserta saling berbagi konteks institusional, pengalaman mengajar, dan problematika kelas. Diskusi menjadi kaya, bukan hanya karena keragaman latar belakang, tetapi karena semua peserta datang dengan keinginan kuat untuk berubah.
Pendekatan Design Thinking memberi struktur yang kuat bagi proses tersebut. Melalui alat seperti canvasing, pemetaan pengguna, dan analisis kebutuhan riil, peserta dapat menghubungkan visi pendidikan institusinya dengan kebutuhan mahasiswa secara langsung. Ini bukan pelatihan yang melahirkan dokumen—tetapi cara berpikir baru yang siap diterapkan.
Baca Artikel Lainnya:Meningkatkan Kualitas Pembelajaran: Politeknik STIA LAN Bekali Dosen dengan Sertifikasi Design Thinking
Sering kali, peningkatan mutu dosen dipahami dalam bentuk kewajiban administratif ikut pelatihan, buat laporan, selesai. Namun, realitas pendidikan hari ini menuntut lebih dari itu. Kita butuh dosen yang mampu:
- Melihat mahasiswa sebagai pusat dari proses belajar.
- Mendesain pembelajaran dengan logika yang terhubung dari tujuan hingga evaluasi.
- Beradaptasi dengan cepat terhadap konteks dan kebutuhan yang terus berubah.
Program ini memberikan semua itu. Ia bukan hanya memenuhi aspek pengembangan profesi dosen, tetapi menjadi bagian dari strategi jangka panjang peningkatan mutu institusi. Institusi yang mengirimkan dosennya ke program ini tidak hanya akan memiliki RPS yang lebih baik. Mereka akan memiliki dosen dengan mindset desain, yang mampu berpikir sistematis, empatik, dan inovatif dalam menyusun pembelajaran. Dalam konteks akreditasi, capaian IKU, dan pemenuhan standar internasional, hal ini memberikan keunggulan strategis yang nyata.
Design Thinking Certification for Educators Batch 49 bukan akhir dari proses belajar. Ia justru menjadi titik awal dari sebuah perubahan paradigma. Peserta yang telah mengikuti program ini kembali ke kampus masing-masing dengan membawa lebih dari sekadar materi. Mereka membawa cara berpikir baru, alat konkret, dan semangat kolaborasi yang bisa menjadi energi perubahan di institusinya.
Transformasi pendidikan bukan hanya soal teknologi atau kurikulum. Ia dimulai dari cara dosen berpikir dan merancang pengalaman belajar setiap harinya. Hubungi admin Anda hari ini dan mari berkolaborasi untuk menciptakan dampak yang lebih besar di dunia pendidikan




