Pada 12–13 November 2025, Design Thinking Academy kembali menghadirkan program Sertifikasi Design Thinking for Professional, sebuah ruang belajar dua hari yang mempertemukan pemilik bisnis, konsultan, inovator internal, hingga seorang pensiunan BUMN yang pernah berada di balik transformasi besar PT Kereta Api Indonesia. Meski datang dari latar yang berbeda, mereka berkumpul dengan tujuan yang sama: memperkuat kemampuan membaca kebutuhan manusia dan menerjemahkannya menjadi inovasi yang relevan.
Program ini dirancang untuk menjawab kebutuhan organisasi modern yang semakin kompleks. Banyak perubahan di dunia kerja saat ini membutuhkan pendekatan yang lebih empatik, bukan sekadar keputusan cepat berbasis asumsi. Design Thinking hadir sebagai metode yang membantu profesional melihat ulang cara mereka memahami masalah, menilai peluang, dan membangun solusi.
Menggeser Mindset: Dari “Cepat Menyimpulkan” ke “Tahu Apa yang Dirasakan Pengguna”
Sejak sesi awal, peserta diajak menghentikan kebiasaan melompat langsung ke solusi. Mereka belajar mendengarkan, melihat pola perilaku, dan menelusuri apa yang benar-benar dibutuhkan manusia dalam sistem kerja mereka.
Pendekatan ini terasa relevan bagi banyak peserta. Seorang peserta yang pernah memimpin transformasi di KAI, misalnya, mengakui bahwa selama ini ia mengandalkan intuisi ketika merancang perubahan. Sertifikasi ini memberinya kerangka berpikir yang lebih rapi, sekaligus cara mengajarkannya kembali kepada generasi profesional berikutnya.
Peserta lain, seorang inovator internal, berbagi pengalaman tentang pembuatan aplikasi sederhana yang kemudian menjadi solusi efektif bagi perusahaannya. Dengan memetakan kebutuhan pengguna dan membuat prototipe cepat, ia menyelesaikan persoalan jadwal kerja yang selama ini menyita energi banyak orang. Contoh seperti ini memperlihatkan bagaimana pendekatan empatik mampu menghasilkan dampak besar, bahkan dari solusi yang tampak sederhana.
Hari kedua menjadi ajang eksplorasi penuh. Peserta menjalani tahapan Design Thinking secara lengkap dari menggali empati, memetakan masalah, menghasilkan ide, merancang prototipe, hingga melakukan validasi. Suasana kelas terasa seperti laboratorium inovasi: ritmenya cepat, diskusi terjadi di berbagai sudut ruangan, dan setiap orang terlibat aktif membangun solusi.
Pengalaman intens ini memberi gambaran tentang budaya kerja yang ingin dibangun banyak organisasi hari ini kolaboratif, responsif, dan sama-sama fokus pada relevansi. Setelah dua hari, peserta tidak hanya memahami metode. Mereka membawa pulang cara berpikir baru dan beberapa manfaat penting:
- Kepekaan membaca kebutuhan pengguna sebelum menyusun rencana.
- Kerangka kerja yang mempermudah proses inovasi, tidak hanya mengandalkan intuisi.
- Kemampuan merumuskan masalah dengan lebih jelas dan terukur.
- Keterampilan berkolaborasi dalam ritme kerja yang dinamis.
- Perspektif bahwa setiap tantangan bisa menjadi pintu masuk untuk menciptakan sesuatu yang lebih manusiawi dan berdampak.
Baca artikel lainnya: Mendorong Inovasi Produk Lokal Lewat Sertifikasi Design Thinking
Membangun Pemimpin yang Mampu Mengorkestrasi Perubahan
Salah satu pesan kuat dari program ini adalah bahwa inovasi bukanlah hasil dari satu ide besar, melainkan kemampuan menghubungkan empati, kreativitas, dan eksekusi. Peserta diarahkan untuk menjadi innovation orchestrator pemimpin yang dapat membaca kebutuhan, menggerakkan tim, dan memimpin perubahan dengan pendekatan yang berkelanjutan.
Design Thinking Academy menegaskan komitmennya untuk membantu para profesional Indonesia membangun cara kerja baru yang lebih adaptif, relevan, dan berpusat pada manusia.




