Setiap kebijakan, program, atau inovasi organisasi pada akhirnya akan diuji oleh satu hal: apakah benar-benar menjawab kebutuhan pengguna? Pertanyaan ini menjadi pembelajaran utama dalam Sertifikasi Design Thinking for Professional Batch 55 yang diselenggarakan oleh Design Thinking Academy The Local Enablers pada 12–13 Mei 2026. Program ini mempertemukan praktisi dari berbagai sektor, mulai dari media kreatif, public speaking, digital learning rumah sakit, hingga pemberdayaan komunitas anak muda. Meski membawa tantangan yang berbeda, para peserta menemukan satu kesadaran penting: inovasi yang baik tidak dimulai dari banyaknya ide, melainkan dari ketepatan dalam merumuskan masalah.
Define yang Lemah Membuat Solusi Tidak Tepat Sasaran

Dalam design thinking, fase define adalah tahap ketika masalah pengguna dirumuskan secara lebih tajam. Di sinilah arah solusi ditentukan. Bagi pemangku kebijakan, fase ini sangat penting. Banyak program gagal bukan karena tidak memiliki anggaran, sumber daya, atau niat baik, tetapi karena masalah yang diselesaikan belum benar-benar tepat. Ketika akar masalah tidak dipahami, solusi yang dibuat berisiko hanya menjawab gejala, bukan kebutuhan utama.
Melalui pendekatan Jobs to Be Done, peserta diajak melihat pengguna secara lebih mendalam. Pertanyaannya tidak berhenti pada “siapa pengguna program ini?”, tetapi bergerak menjadi “apa yang sebenarnya sedang mereka coba selesaikan?” Cara berpikir ini membantu pengambil keputusan memahami kebutuhan fungsional, emosional, dan sosial dari masyarakat, pelanggan, peserta program, atau anggota komunitas yang mereka layani.
Dari Asumsi Menuju Keputusan yang Lebih Presisi
Salah satu contoh dalam kelas datang dari konteks pengembangan trainer pemula. Awalnya, tantangannya terlihat sederhana: bagaimana mencetak trainer yang unggul. Namun, setelah digali, masalahnya ternyata lebih dalam. Apakah trainer pemula membutuhkan validasi kompetensi di depan peserta? Apakah mereka perlu legitimasi dari institusi? Ataukah mereka sedang berjuang membangun kepercayaan diri terhadap kapasitas mereka sendiri?
Pertanyaan seperti ini menunjukkan bahwa masalah yang tampak sederhana sering kali memiliki lapisan yang lebih kompleks. Tanpa proses define yang kuat, keputusan program bisa menjadi terlalu umum dan kurang berdampak. Inilah nilai penting design thinking bagi pemangku kebijakan. Ia membantu proses pengambilan keputusan menjadi lebih berbasis pemahaman, bukan sekadar asumsi. Setiap kebijakan, program, atau inisiatif dapat dirancang dengan lebih relevan karena berangkat dari kebutuhan nyata pengguna.
Baca Artikel Lainnya:Sertifikasi Design Thinking Batch 54: Langkah Strategis untuk Merancang Kurikulum dan Program SDM yang Berdampak
Bagi organisasi, kemampuan ini menjadi semakin penting. Perubahan kebutuhan masyarakat, dinamika industri, dan kompleksitas masalah sosial menuntut pemimpin yang tidak hanya cepat mengambil keputusan, tetapi juga tepat dalam memahami masalah. Mengikuti Sertifikasi Design Thinking for Professional bukan hanya tentang mempelajari metode inovasi. Ini adalah investasi untuk membangun cara berpikir strategis, empatik, dan terstruktur dalam merancang solusi.
Bagi pemangku kebijakan, kemampuan ini dapat menjadi pembeda antara program yang sekadar berjalan dan program yang benar-benar memberi dampak. Jika Anda terlibat dalam perancangan kebijakan, pengembangan program, inovasi layanan, atau pengambilan keputusan strategis, kelas sertifikasi ini penting untuk diikuti. Karena solusi yang kuat selalu dimulai dari kemampuan memahami masalah dengan tepat.
Tertarik mengikuti kelas sertifikasi atau membuka peluang kolaborasi untuk pengembangan program berbasis design thinking? Hubungi admin Design Thinking Academy The Local Enablers untuk informasi jadwal, pendaftaran, dan peluang kerja sama lebih lanjut.




