Di tengah meningkatnya kompleksitas tantangan pembangunan, organisasi dituntut untuk merancang program yang tidak hanya berjalan dengan baik, tetapi juga mampu menciptakan dampak yang nyata. Sayangnya, masih banyak program yang disusun berdasarkan asumsi internal tanpa didukung pemahaman mendalam terhadap kebutuhan penerima manfaat.
Oleh karena itu, semakin banyak organisasi pembangunan, lembaga donor, pemerintah, hingga sektor swasta yang mulai mengadopsi Human-Centered Design (HCD) dan Design Thinking. Pendekatan ini membantu organisasi memahami kebutuhan pengguna, memetakan akar permasalahan, serta merancang solusi yang lebih relevan dan berkelanjutan.Sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas internal, New Energy Nexus Indonesia menyelenggarakan Human-Centered Program Design Workshop pada 30 Juni 2026 di Banyuwangi, Jawa Timur. Workshop ini dirancang untuk membangun kemampuan tim dalam merancang program yang human-centered, evidence-based, dan selaras dengan Theory of Change (ToC).
Mengapa Organisasi Perlu Mengadopsi Design Thinking?
Banyak organisasi telah berhasil melaksanakan berbagai kegiatan dan mencapai target output. Namun, keberhasilan tersebut belum tentu menghasilkan dampak yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Sering kali, tantangannya bukan terletak pada keterbatasan sumber daya. Sebaliknya, proses perancangan program belum dimulai dengan memahami pengalaman, kebutuhan, dan tantangan yang dihadapi penerima manfaat. Di sinilah Design Thinking berperan. Pendekatan ini mendorong organisasi untuk memahami masalah sebelum menentukan solusi. Dengan demikian, setiap intervensi dapat disusun berdasarkan fakta dan insight lapangan, bukan sekadar asumsi.
Membangun Program yang Berangkat dari Kebutuhan Nyata

Workshop yang difasilitasi oleh The Local Enablers (TLE) bersama Design Thinking Academy (DTA) melibatkan 15 peserta dari divisi Program, Policy, Communication & Publish, serta Finance & Administration. Peserta dibagi ke dalam tiga studi kasus yang mewakili konteks wilayah berbeda, yaitu Merauke, Manado, dan Lombok. Workshop diawali dengan pengenalan prinsip Double Diamond Design Thinking.
Selanjutnya, peserta mempelajari perbedaan antara problem space dan solution space sebagai dasar dalam merancang program.Setelah itu, peserta melakukan ecosystem and stakeholder mapping. Tahap ini membantu mereka memahami hubungan antaraktor, potensi kolaborasi, serta berbagai tantangan yang dapat memengaruhi keberhasilan implementasi program.
Berikutnya, peserta melakukan user interview untuk menggali pengalaman, kebutuhan, dan hambatan yang dihadapi beneficiaries. Insight yang diperoleh kemudian diolah menjadi persona dan user journey. Proses tersebut membantu peserta melihat kondisi penerima manfaat secara lebih empatik dan menyeluruh. Selanjutnya, peserta menyusun problem framing. Fokus utama pada tahap ini adalah membedakan gejala dengan akar permasalahan sehingga solusi yang dirancang benar-benar menjawab kebutuhan di lapangan. Pada sesi terakhir, seluruh hasil eksplorasi diselaraskan dengan Theory of Change. Dengan demikian, hubungan antara masalah, intervensi, outcome, hingga dampak menjadi lebih jelas dan terstruktur.
Pengalaman selama workshop menunjukkan bahwa pendekatan human-centered memberikan manfaat yang jauh melampaui proses fasilitasi. Beberapa manfaat yang dapat dirasakan organisasi antara lain:
- Memahami kebutuhan penerima manfaat secara lebih mendalam;
- Merancang program berdasarkan data dan insight lapangan;
- Memperkuat kualitas Theory of Change melalui proses yang lebih sistematis;
- Meningkatkan kolaborasi lintas divisi dengan kerangka kerja yang sama;
- Mengurangi risiko program yang tidak tepat sasaran; serta
- Menghasilkan intervensi yang lebih adaptif, relevan, dan berkelanjutan.
Oleh karena itu, Design Thinking semakin dipandang sebagai investasi strategis bagi organisasi yang ingin meningkatkan kualitas perancangan program sekaligus memperkuat dampak yang dihasilkan.
Baca Artikel lainnya:Creativity Thinking for Branch Managers: Strategi OTO Group Membangun Pemimpin Cabang yang Adaptif
Saatnya Merancang Program Berdampak
Melalui Human-Centered Program Design Workshop, New Energy Nexus Indonesia menunjukkan bahwa Design Thinking dapat menjadi fondasi dalam membangun program yang lebih relevan, kolaboratif, dan berorientasi pada dampak. Pendekatan ini juga membantu organisasi memastikan bahwa setiap intervensi memiliki dasar yang kuat sebelum diimplementasikan. Seiring meningkatnya tuntutan akuntabilitas dari donor, pemerintah, maupun masyarakat, kemampuan merancang program yang berpusat pada manusia bukan lagi menjadi nilai tambah. Sebaliknya, pendekatan ini telah menjadi kebutuhan bagi organisasi yang ingin menghasilkan perubahan yang berkelanjutan.
Setiap organisasi memiliki tantangan yang berbeda dalam merancang program. Namun, satu hal yang sama adalah pentingnya memahami kebutuhan penerima manfaat sebelum menentukan solusi. Jika organisasi Anda ingin membangun kapasitas tim dalam Design Thinking, Human-Centered Design, atau menyusun Theory of Change yang lebih kuat, kami siap menjadi mitra pembelajaran dan pendampingan. Hubungi admin kami untuk berdiskusi mengenai pelatihan, workshop, atau pendampingan yang disesuaikan dengan kebutuhan organisasi Anda.




