Perubahan organisasi tidak selalu kekurangan kebijakan. Sering kali, tantangannya justru muncul saat kebijakan harus diterapkan. Bagaimana memastikan perubahan benar-benar terjadi di unit kerja? Siapa yang akan memulainya? Masalah apa yang perlu diselesaikan? Lalu, bagaimana mengukur hasilnya?. Pertanyaan tersebut menjadi bagian penting dalam Workshop Change Agent Activation & Initiative Development: Change Agent Development Program Batch I.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Badan Pengelola BUMN pada 26–27 Agustus 2026. Workshop berlangsung di Ruang Meetspace, Artotel Hotel Thamrin, Jakarta. Sebanyak 24 change agent dari 19 unit kerja mengikuti kegiatan ini. Peserta kemudian dibagi ke dalam enam kelompok lintas kedeputian. Workshop ini difasilitasi oleh Design Thinking Academy (DTA). Fasilitator terdiri dari Trainer, Co-trainer, Facilitator, dan Program Support. Tujuan utamanya adalah memperkuat peran change agent. Dengan demikian, peserta tidak hanya memahami perubahan. Mereka juga belajar mengubah masalah nyata menjadi inisiatif yang bisa dijalankan.
Perubahan Dimulai dari Memahami Masalah

Sering kali, ketika menemukan persoalan, organisasi langsung berpikir tentang solusi: membuat program baru, sistem baru, atau prosedur baru. Padahal, solusi yang baik seharusnya berangkat dari pemahaman yang tepat mengenai masalah. Melalui pendekatan build from within, peserta diajak memulai dari kondisi nyata di unit kerja.
Proses pembelajaran mencakup pola pikir perubahan, Theory of Change, user journey, serta pemetaan pain and gain untuk memahami perubahan dari perspektif orang yang terdampak. Peserta kemudian menggunakan Five Whys untuk menggali akar masalah. Dari proses eksplorasi dan diskusi lintas kelompok, muncul beberapa isu yang dekat dengan keseharian unit kerja, seperti arahan mendadak yang mengganggu pekerjaan rutin, inkonsistensi data lintas sumber, serta belum optimalnya wadah berbagi pengetahuan. Masalah tersebut kemudian dirumuskan menjadi problem statement tanpa langsung menawarkan solusi. Peserta juga menggunakan How Might We (HMW) dan Jobs To Be Done (JTBD) untuk melihat kebutuhan serta peluang perubahan dengan lebih tajam. Pendekatan ini membawa peserta pada satu pertanyaan sederhana:
“Masalah apa yang sebenarnya perlu kita selesaikan?”
Bukan sekadar, “Program apa yang harus kita buat?”
Peserta juga memetakan ruang kendali, pengaruh, dan kepedulian, serta mengenali early adopter yang dapat menjadi pelopor perubahan. Dengan demikian, perubahan tidak dipandang sebagai sesuatu yang harus menunggu kebijakan besar, tetapi dapat dimulai dari ruang yang memang bisa digerakkan oleh change agent.
Baca artikel lainnya:Innovation Bootcamp SPTP: Membangun Inovasi yang Siap Dijalankan di Lingkungan Operasional Pelabuhan
Mendorong Perubahan Tumbuh dari Dalam
Pada akhirnya, membangun change agent bukan hanya tentang memberikan pelatihan. Lebih dari itu, prosesnya adalah membangun kemampuan untuk melihat masalah dengan lebih jernih. Peserta belajar menemukan akar persoalan. Mereka juga belajar memahami ruang kendali dan pengaruh. Selanjutnya, mereka belajar melibatkan stakeholder yang tepat. Setelah itu, mereka menerjemahkan gagasan menjadi inisiatif yang dapat dijalankan. Yang tidak kalah penting, hasil perubahan perlu dapat dibuktikan.
Perubahan pun tidak selalu harus dimulai dari program besar. Sebaliknya, perubahan dapat dimulai dari satu masalah yang nyata.Kemudian, satu orang dapat menjadi penggeraknya. Dari sana, satu inisiatif dapat mulai diuji. Jika berjalan dengan baik, inisiatif tersebut dapat berkembang menjadi perubahan yang lebih besar. Karena itu, change agent bukan sekadar orang yang membawa pesan perubahan. Mereka adalah penggerak yang membantu perubahan tumbuh dari dalam organisasi.




