Palembang, September 2026 . Transformasi proses bisnis membutuhkan sistem yang baik. Namun, perubahan juga perlu didukung cara berpikir yang inovatif. Organisasi perlu memahami masalah dari sudut pandang pengguna. Dengan cara ini, solusi yang dibuat dapat lebih sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Hal tersebut menjadi fokus Workshop Building Innovation with Design Thinking yang diselenggarakan PT Pupuk Sriwidjaja atau PUSRI pada 10 sampai 11 September 2026. Kegiatan berlangsung di Learning Center PT Pupuk Sriwidjaja Palembang.
Selama dua hari, insan PUSRI dari berbagai fungsi kerja mengikuti rangkaian kegiatan secara langsung. Peserta mempelajari cara memahami kebutuhan pengguna. Mereka juga menggali akar masalah dan menyusun berbagai pilihan solusi untuk mendukung perbaikan proses bisnis.
Mendorong Inovasi Berbasis Kebutuhan Pengguna

Dalam organisasi dengan kegiatan operasional yang kompleks, satu proses bisnis dapat melibatkan banyak pihak. Setiap pihak juga memiliki kebutuhan yang berbeda. Selain itu, kondisi di lapangan dapat berubah dengan cepat. Karena itu, perbaikan proses bisnis perlu diawali dengan pemahaman terhadap pengguna. Organisasi perlu mengetahui masalah yang mereka hadapi. Pengalaman pengguna juga perlu menjadi bagian dari proses pencarian solusi.
Melalui pendekatan Design Thinking, peserta tidak langsung mencari jawaban atas sebuah masalah. Sebaliknya, mereka terlebih dahulu memahami pengguna dan kebutuhannya. Setelah itu, peserta memetakan perjalanan pengguna atau user journey.Selanjutnya, peserta mendefinisikan masalah yang ditemukan. Mereka kemudian menggali akar masalah dan mencari berbagai ide untuk menjawab kebutuhan tersebut. Workshop ini melibatkan insan PUSRI dari berbagai fungsi kerja. Peserta membawa pengalaman dari unit kerja masing-masing. Mereka kemudian bekerja sama untuk memahami masalah dari berbagai sudut pandang.
Dalam proses tersebut, peserta menemukan beberapa tantangan dalam proses bisnis. Tantangan tersebut antara lain berkaitan dengan proses pengadaan, kesiapan Turn Around atau TA, pengelolaan proses operasional, serta penyederhanaan proses kerja. Pada proses pengadaan, peserta melihat kebutuhan untuk meningkatkan efektivitas kerja. Hal ini penting karena jumlah permintaan dan kebutuhan dapat berubah secara dinamis. Sementara itu, pada proses Turn Around, peserta mengeksplorasi kebutuhan terhadap perencanaan, pemantauan, dan koordinasi yang lebih baik. Pada proses operasional, peserta juga melihat pentingnya informasi yang lebih mudah dipantau. Kolaborasi antar fungsi menjadi bagian penting dalam proses tersebut.
Selanjutnya, peserta mengeksplorasi cara menyederhanakan proses kerja. Tujuannya adalah membuat proses menjadi lebih responsif terhadap kebutuhan pengguna. Dalam workshop ini, peserta mengikuti beberapa tahapan Design Thinking. Tahapan tersebut meliputi empathize, define, ideate, dan prototype. Setelah itu, peserta melakukan refleksi terhadap peluang penerapan solusi. Dari proses tersebut, peserta menghasilkan sejumlah rancangan solusi awal. Rancangan tersebut mencakup penguatan sistem monitoring, peningkatan koordinasi antar fungsi, penguatan perencanaan, serta pengembangan proses bisnis yang lebih terintegrasi.
Baca artikel lainnya:Workshop Change Agent Activation & Initiative Development: Change Agent Development Program Batch I
Memperkuat Perspektif dan Budaya Inovasi
Pendekatan Design Thinking memberikan pengalaman baru bagi peserta dalam melihat sebuah masalah. Salah satunya disampaikan oleh Tri Maksum Sofuwan dari Dep. Manajemen & Pengembangan SDM.
“Melalui workshop Design Thinking ini, saya mendapatkan perspektif baru dalam melihat sebuah permasalahan. Sebelumnya kita cenderung langsung mencari solusi, tetapi melalui pendekatan ini kita belajar untuk memahami kebutuhan pengguna terlebih dahulu sehingga solusi yang dihasilkan lebih tepat sasaran.”
Menurut pengalaman tersebut, memahami pengguna menjadi bagian penting sebelum menentukan solusi. Dengan memahami kebutuhan sejak awal, proses pencarian solusi dapat dilakukan dengan lebih terarah. Selain menghasilkan rancangan solusi, workshop ini juga memberikan kerangka berpikir bagi peserta. Kerangka tersebut dapat digunakan ketika mereka menghadapi masalah dalam pekerjaan sehari hari.
Peserta belajar memahami konteks masalah. Mereka juga belajar menggali akar persoalan dan melihat kebutuhan pengguna. Selanjutnya, mereka dapat bekerja sama dengan fungsi lain untuk mencari pilihan solusi. Dengan demikian, pembelajaran dalam workshop dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat budaya inovasi di lingkungan PUSRI. Budaya inovasi tidak hanya dibangun melalui ide baru. Budaya tersebut juga tumbuh ketika insan perusahaan memiliki kesempatan untuk melihat masalah dan mencari peluang perbaikan.
Karena itu, keterlibatan berbagai fungsi menjadi penting. Setiap fungsi dapat membawa pengalaman dan sudut pandang yang berbeda. Kolaborasi tersebut dapat membantu organisasi memahami sebuah masalah secara lebih menyeluruh.Bagi pemangku kebijakan, pendekatan ini menunjukkan bahwa transformasi proses bisnis membutuhkan lebih dari sekadar perubahan sistem. Organisasi juga perlu membangun kemampuan untuk memahami pengguna, mengelola masalah, dan merancang solusi secara bersama.
Mendorong Transformasi Proses Bisnis yang Berkelanjutan
Workshop Building Innovation with Design Thinking menjadi salah satu langkah PUSRI dalam mendorong proses bisnis yang lebih adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada pengguna. Melalui pendekatan ini, peserta tidak hanya belajar menghasilkan ide. Mereka juga belajar memahami alasan di balik sebuah masalah. Selanjutnya, mereka dapat menyusun solusi berdasarkan kebutuhan yang ditemukan.
Hal tersebut penting dalam proses transformasi bisnis. Ketika masalah dipahami dengan baik, peluang perbaikan dapat ditemukan dengan lebih jelas. Setelah itu, organisasi dapat menentukan langkah yang sesuai dengan kondisi di lapangan.Pada akhirnya, inovasi tidak selalu harus dimulai dari teknologi baru. Inovasi dapat dimulai dari proses kerja yang sudah ada. Organisasi dapat melihat kembali proses tersebut, memahami kebutuhan pengguna, kemudian mencari cara yang lebih baik untuk menjalankannya.
Mari membangun inovasi dari masalah nyata. Mari memperkuat kolaborasi lintas fungsi. Dengan demikian, proses bisnis dapat menjadi lebih adaptif dan berkelanjutan.Bagi organisasi yang ingin mengembangkan kemampuan inovasi dan merancang solusi berdasarkan kebutuhan pengguna, pendekatan Design Thinking dapat menjadi salah satu langkah untuk mendorong transformasi proses bisnis yang lebih terarah.Perubahan utama dari versi sebelumnya: saya sengaja membuat paragraf lebih pendek, mengurangi istilah yang terlalu kompleks, dan menambahkan transisi antargagasan. Ini lebih dekat dengan masalah yang ditunjukkan Yoast pada screenshot Anda.




