Jakarta, 14–15 September 2026 ,Perubahan organisasi sering kali dimulai dari satu pertanyaan sederhana: masalah siapa yang sebenarnya ingin kita selesaikan?. Pertanyaan tersebut menjadi titik awal Workshop Change Agent Activation & Initiative Development – Change Agent Development Program Batch II. Kegiatan ini diselenggarakan oleh BP BUMN bersama Diplab di Hotel Ascott, Jakarta. Selama dua hari, pada 14–15 September 2026, sebanyak 24 change agent dari 17 unit kerja mengikuti rangkaian pembelajaran yang dirancang untuk memperkuat peran mereka sebagai penggerak perubahan.
Peserta tidak hanya mempelajari konsep perubahan. Mereka juga menjalani proses untuk memahami pengguna, menemukan akar masalah, merancang solusi, membuat prototipe, hingga menyusun komitmen perubahan. Workshop ini menjadi bagian dari upaya memperkuat peran strategis change agent BP BUMN dalam mengakselerasi Zona Integritas. Pendekatan yang digunakan adalah build from within. Dengan pendekatan ini, perubahan tidak hanya dilihat dari sisi kebijakan atau output. Sebaliknya, proses dimulai dari pemahaman terhadap persona, pengalaman, kebutuhan, dan persoalan nyata pengguna. Dengan demikian, change agent tidak hanya berperan sebagai penyampai pesan perubahan. Mereka juga didorong menjadi perancang dan penggerak inisiatif perubahan di unit kerjanya.
Dari Memahami Pengguna hingga Menghasilkan Prototipe Perubahan

Dipandu oleh Dr. Ir. Dwi Purnomo, S.T.P., M.T., IPU, ASEAN Eng. sebagai Main Trainer, workshop menggunakan pendekatan Design Thinking. Pendekatan tersebut diterjemahkan ke dalam delapan kanvas interaktif. Setiap kanvas membantu peserta bergerak secara bertahap, mulai dari memahami pengguna hingga menyusun rencana perubahan.
Pada tahap awal, peserta menggunakan Kacamata Pengguna dan Kanvas Persona. melalui tahapan ini, peserta belajar melihat persoalan dari sudut pandang orang yang mengalami proses secara langsung.Selanjutnya, peserta menggunakan Peta Proses Bisnis untuk memetakan alur kerja persona. Mereka kemudian mengidentifikasi pain point, gain point, dan titik ungkit perubahan. Tahapan tersebut membantu peserta memahami kondisi yang terjadi di lapangan. Selain itu, peserta dapat menentukan bagian mana yang memiliki peluang untuk diperbaiki. Setelah memahami pengguna dan proses bisnis, peserta masuk ke tahap Root Cause Analysis menggunakan metode Lima Mengapa.
Pada awal proses, seluruh kelompok masih cenderung mengaitkan akar masalah dengan faktor eksternal. Beberapa faktor tersebut antara lain regulasi, kelembagaan, atau pimpinan. Melalui proses fasilitasi, peserta kemudian diarahkan untuk kembali melihat masalah dari perspektif persona. Fokus analisis pun diarahkan pada aspek kapabilitas yang berada dalam kendali kelompok. Dari proses tersebut, peserta berhasil merumuskan enam akar masalah dan enam problem statement. Setelah itu, peserta menyusun Jobs To Be Done. Tahapan ini digunakan untuk memperjelas kondisi yang ingin dicapai.Kemudian, peserta merumuskan How Might We untuk membuka peluang pengembangan solusi. Dengan urutan tersebut, ide yang muncul memiliki hubungan yang lebih jelas dengan masalah yang sebelumnya telah dirumuskan.
Dari Ide Menjadi Prototipe
Dari enam kelompok, proses ini menghasilkan sekitar 192 gagasan awal. Gagasan tersebut kemudian dikembangkan menjadi enam peta proses bisnis baru. Selain itu, peserta membuat enam prototipe fisik menggunakan balok susun dan plastisin. Dengan cara ini, ide perubahan tidak berhenti sebagai konsep. Peserta dapat melihat, membahas, dan mengembangkan gagasan mereka dalam bentuk yang lebih konkret.
Selanjutnya, setiap kelompok mempresentasikan rancangan inisiatif. Main Trainer kemudian memberikan penguatan terhadap rancangan tersebut. Sebagai bentuk tindak lanjut, seluruh kelompok juga berhasil menyusun dan memaraf Kartu Komitmen Zona Integritas. Namun, masih ada beberapa hal yang perlu disempurnakan. Kanvas 7, Rencana Kerja Inisiatif, belum dapat diselesaikan selama workshop karena keterbatasan waktu. Karena itu, sejumlah inisiatif masih membutuhkan pendampingan lanjutan. Pendampingan tersebut diperlukan untuk memperjelas penanggung jawab, tenggat waktu, indikator keberhasilan, dan target yang terukur. Dengan demikian, workshop tidak berhenti pada penciptaan ide. Tahap selanjutnya adalah memastikan ide tersebut dapat diterjemahkan menjadi inisiatif yang dapat dilaksanakan dan diukur.
Baca juga artikel lainnya:PUSRI Dorong Transformasi Proses Bisnis melalui Design Thinking
Membangun Change Agent yang Berorientasi pada Outcome
Salah satu insight penting dari workshop disampaikan oleh Mas Nuga, peserta kegiatan. Menurutnya, perubahan tidak cukup hanya berfokus pada produk atau output yang ingin dihasilkan. Organisasi juga perlu memahami siapa yang akan mengalami perubahan dan apa dampak yang ingin diwujudkan.
“Kalau kita ingin merubah sesuatu itu, jangan hanya fokus kepada produknya. Namun kita juga harus fokus terhadap persona dari si rekan yang ingin kita merubah ataupun unit yang ingin kita merubah, dan juga outcome-nya, jadi dampak dari output yang ingin kita berikan nanti ke masa depan.”
Pandangan tersebut relevan dengan upaya penguatan Zona Integritas dan Reformasi Birokrasi. Sebab, perubahan organisasi tidak hanya berkaitan dengan dokumen, prosedur, atau pemenuhan indikator. Lebih dari itu, perubahan perlu dilihat dari bagaimana proses tersebut berjalan dan dirasakan oleh pengguna. Melalui Change Agent Development Program Batch II, peserta mendapatkan pengalaman untuk melihat perubahan melalui proses yang lebih terstruktur. Pertama, mereka memahami pengguna. Selanjutnya, mereka memetakan proses dan menemukan akar masalah. Setelah itu, mereka mengembangkan ide dan membuat prototipe.
Pada tahap berikutnya, peserta menyusun komitmen perubahan sebagai dasar untuk tindak lanjut.Rangkaian tersebut memberikan fondasi bagi pengembangan inisiatif perubahan yang relevan, inovatif, dan aplikatif sesuai dengan konteks unit kerja masing-masing. Pada akhirnya, program ini menunjukkan bahwa perubahan organisasi dapat dibangun dari dalam. Pengguna menjadi titik awal. Change agent menjadi penggerak. Sementara itu, outcome menjadi arah perubahan.
Perubahan yang kuat bukan hanya tentang apa yang ingin dibuat organisasi. Perubahan juga perlu menjawab tiga hal: perubahan apa yang dibutuhkan, siapa yang akan mengalaminya, dan bagaimana dampaknya dapat diwujudkan serta diukur.Ingin mengetahui lebih lanjut mengenai Change Agent Development Program atau mendiskusikan kebutuhan pengembangan inisiatif perubahan di organisasi Anda? Hubungi tim kami melalui WhatsApp untuk mendapatkan informasi lebih lanjut dan berdiskusi mengenai kebutuhan program Anda.




