Merancang pembelajaran bukan hanya soal menyusun materi, metode, dan Rencana Pembelajaran Semester (RPS). Lebih dari itu, ada satu pertanyaan penting yang perlu dijawab: untuk siapa pembelajaran tersebut dirancang? Pertanyaan ini menjadi salah satu refleksi dalam Design Thinking for Educator Batch 57 yang diselenggarakan oleh Design Thinking Academy pada 6–7 Agustus 2026 di Rumah Kolaborasi The Local Enablers, Bandung.
Program ini mempertemukan peserta dari berbagai latar belakang. Ada Aldo, konselor LK3 asal Kota Tangerang; Angga, analis kebijakan publik dari NGO Paritto asal Serang; serta Muhyidin, dosen Universitas Ibnu Khaldun asal Bogor. Perbedaan latar belakang tersebut menunjukkan bahwa tantangan dalam merancang pembelajaran dan program tidak hanya terjadi di satu jenis institusi. Sebaliknya, persoalan yang sama dapat muncul ketika sebuah organisasi merancang solusi berdasarkan kebutuhannya sendiri, tanpa lebih dulu memahami orang yang akan menggunakannya.
Ketika Pembelajaran Terlalu Berpusat pada Lembaga

Selama ini, proses perancangan pembelajaran sering dimulai dari kebutuhan lembaga. Apa yang harus disampaikan? Target apa yang harus dicapai? Dokumen apa yang perlu diselesaikan? Semua itu tentu penting. Namun, jika proses berhenti pada kebutuhan lembaga, ada risiko pembelajaran menjadi lembaga-centric.Artinya, pembelajaran lebih banyak dirancang dari sudut pandang organisasi daripada dari pengalaman orang yang belajar.
Padahal, sebuah program dapat terlihat baik di atas kertas, tetapi belum tentu sesuai dengan kebutuhan penggunanya. Karena itu, Design Thinking menawarkan cara pandang yang berbeda. Alih-alih langsung menentukan solusi, proses dimulai dengan memahami manusia. Perancang diajak untuk bertanya: siapa penggunanya, apa kebutuhannya, apa yang dirasakan, dan hambatan apa yang dihadapi?
Dengan demikian, keputusan dalam merancang pembelajaran tidak hanya berdasarkan asumsi. Keputusan tersebut juga perlu memiliki hubungan yang jelas dengan kebutuhan dan pengalaman pengguna. Dalam Batch 57, peserta mempelajari konsep human-centered learning, pemetaan kebutuhan pengguna, eksplorasi masalah, serta berbagai tools Design Thinking. Selanjutnya, pendekatan tersebut dikaitkan dengan kebutuhan perancangan pendidikan, mulai dari profil lulusan, Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), hingga RPS. Menariknya, tools bukan menjadi tujuan akhir. Canvas dan tools digital digunakan untuk membantu peserta melihat masalah dengan lebih terstruktur. Selain itu, proses tersebut juga membuka ruang untuk berdiskusi dan berkolaborasi.
Baca Artikel Lainnya: Merancang Program yang Lebih Berdampak: Human-Centered Design Workshop New Energy Nexus
Dari Dokumen Pembelajaran ke Pengalaman yang Bermakna
Pembelajaran dalam Batch 57 juga tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Saat makan siang, peserta diajak menjelajahi Pasar Cihapit, menikmati makanan di Warung Legenda Bu Eha, serta mencicipi Batagor Kahuripan. Pada hari kedua, peserta juga berkesempatan makan bersama founder The Local Enablers dan jajaran timnya.
Melalui aktivitas tersebut, peserta mendapatkan ruang untuk belajar dari percakapan, observasi, dan pengalaman langsung. Hal ini memperlihatkan bahwa pembelajaran yang berpusat pada manusia tidak berhenti pada metode. Konteks dan pengalaman pengguna juga merupakan bagian dari desain pembelajaran. Karena itu, pergeseran dari lembaga-centric menuju user-centric bukan berarti mengabaikan visi, standar, atau kebutuhan institusi. Sebaliknya, pendekatan ini membantu mempertemukan tujuan lembaga dengan kebutuhan manusia yang berada di dalamnya.
engan cara pandang tersebut, CPL dan RPS tidak lagi sekadar menjadi dokumen yang harus diselesaikan. Keduanya dapat menjadi bagian dari proses untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih relevan dan bermakna.Pada akhirnya, Design Thinking bukan sekadar tentang menggunakan tools. Lebih dari itu, pendekatan ini mengajak perancang pembelajaran untuk berani mempertanyakan asumsi sendiri.
Sebab, pembelajaran yang baik bukan hanya tentang apa yang ingin kita ajarkan, tetapi juga tentang apa yang benar-benar dibutuhkan oleh mereka yang belajar.Maka, sebelum merancang pembelajaran berikutnya, mungkin ada satu pertanyaan yang perlu kembali diajukan: “Sudahkah kita benar-benar memahami untuk siapa pembelajaran ini dirancang?” Jika jawabannya belum, mungkin yang perlu diubah bukan hanya materi atau metodenya, tetapi juga cara kita merancang pembelajaran sejak awal.
Sudah siap merancang pembelajaran yang lebih berpusat pada manusia?, Kenali lebih jauh pendekatan Design Thinking for Educator dan temukan cara memahami kebutuhan pengguna sebelum menentukan solusi pembelajaran. Mari mulai merancang pembelajaran yang lebih relevan, kontekstual, dan bermakna.




