Bagaimana sebuah program pemberdayaan masyarakat dapat benar-benar menjawab kebutuhan warga? Pertanyaan itu menjadi titik awal Kindness to Progress 2026, program kesukarelawanan karyawan Indonesia Financial Group (IFG). Melalui lokakarya selama dua hari, 24 insan IFG belajar memahami persoalan masyarakat sebelum menentukan solusi.
Lokakarya yang berlangsung pada 27–28 Agustus 2026 di Jakarta ini merupakan Fase 1, yaitu Empathise, dari rangkaian Kindness to Progress 2026. Fokus program diarahkan pada Pekon Bumi Ratu, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pringsewu, Lampung. Dalam prosesnya, peserta mewawancarai 11 warga dengan latar belakang berbeda. Mereka kemudian mengolah temuan tersebut menjadi persona, akar masalah, pernyataan masalah, hingga lima gagasan proyek sosial.
Memahami Warga Sebelum Menentukan Solusi

Program sosial sering kali dimulai dari niat baik. Namun, niat baik belum tentu langsung menjawab kebutuhan masyarakat. Kindness to Progress 2026 mencoba menjembatani tantangan tersebut dengan menempatkan pemahaman terhadap warga sebagai langkah awal sebelum menentukan intervensi. Peserta tidak diarahkan untuk sekadar memberikan bantuan. Mereka belajar menjadi perancang program yang memahami kebutuhan masyarakat berdasarkan pengalaman dan perspektif warga.
Pendekatan yang digunakan adalah Humanity-Centered Design Plus. Peserta mempelajari sejumlah metode seperti Persona Canvas, User Journey Map, Five Whys, Problem Statement, dan How Might We. Pendekatan ini membuat proses perancangan program bergerak secara bertahap: memahami warga, menemukan masalah, menggali akar persoalan, kemudian merancang solusi. Pekon Bumi Ratu menjadi wilayah sasaran karena memiliki berbagai potensi yang telah berkembang di masyarakat. Sekitar 85 persen masyarakatnya bergerak di sektor pertanian. Di sana juga terdapat sejumlah aset lokal, seperti Gapoktan, BUMDes, kelompok pengrajin batu bata, budidaya anggur, bank sampah, dan Posyandu.
Namun, berbagai potensi tersebut berjalan berdampingan dengan sejumlah tantangan, mulai dari kesehatan dan remaja, pengelolaan sampah, pendidikan dan transisi karier, organisasi kepemudaan, hingga pengembangan UMKM dan pertanian.Alih-alih membangun program dari nol, peserta diajak melihat apa yang sudah dimiliki masyarakat dan bagaimana aset tersebut dapat diperkuat.
Dari Lima Gagasan hingga Bumi Ratu Bergerak
Hari pertama lokakarya berfokus pada proses memahami warga. Peserta melakukan wawancara, menyusun Persona Canvas, dan memetakan pengalaman warga melalui User Journey Map. Pada tahap awal, seluruh kelompok sempat menerjemahkan kebutuhan warga sebagai barang, uang, atau fasilitas. Setelah mendapatkan pendampingan, rumusan tersebut berubah menjadi kondisi yang ingin dicapai oleh warga.
Perubahan ini menjadi salah satu pembelajaran penting. Peserta mulai melihat bahwa kebutuhan masyarakat tidak selalu berarti sesuatu yang harus diberikan. Kebutuhan dapat berupa akses, kesempatan, kemampuan, ruang untuk berpartisipasi, maupun kondisi yang memungkinkan masyarakat bergerak secara mandiri. Pada hari kedua, peserta menggunakan metode Five Whys untuk menggali akar masalah. Proses kemudian dilanjutkan dengan penyusunan Problem Statement, How Might We, ideasi, dan pembuatan purwarupa. Dari proses tersebut lahirlah lima gagasan proyek sosial:
- Sehati Bumi Ratu, yang berfokus pada kesehatan dan remaja.
- Bumi Lestari, yang memperkuat pengelolaan bank sampah.
- Bumiratu Melangit, yang mendukung pendidikan dan akses informasi pendidikan lanjutan.
- Bumi Lampung Young Connect, yang berfokus pada organisasi dan regenerasi kepemudaan.
- Bumiratu Naik Kelas, yang diarahkan pada peningkatan kapasitas UMKM dan kelompok tani.
Salah satu pembelajaran menarik muncul dari Kelompok 4. Pada awalnya, vakumnya organisasi kepemudaan dapat dilihat sebagai persoalan rendahnya minat pemuda. Namun, proses Five Whys membawa analisis lebih jauh pada persoalan ketiadaan wadah yang solid, konflik internal, komunikasi, serta transparansi pengelolaan kegiatan kepemudaan. Hal ini menunjukkan bahwa masalah sosial tidak selalu berada di permukaan. Ketika peserta belajar menunda kesimpulan dan menggali lebih dalam, titik intervensinya pun dapat berubah.
Kelima gagasan tersebut kemudian disintesis menjadi Bumi Ratu Bergerak, sebuah arsitektur program terpadu yang menggabungkan lima gagasan ke dalam empat pilar aksi dengan kepemudaan sebagai salah satu motor penggeraknya.Pendekatan ini memberikan insight penting: pemberdayaan masyarakat tidak selalu berarti menambah program baru. Terkadang, perubahan justru dimulai dengan menghubungkan dan memperkuat potensi yang sudah ada.
Baca Artikel Lainnya:PUSRI Dorong Transformasi Proses Bisnis melalui Design Thinking
Mengukur Keberhasilan dari Perubahan yang Berkelanjutan
Menariknya, laporan Kindness to Progress 2026 menunjukkan bahwa tantangan peserta bukan terutama pada pemahaman konsep. Rata-rata skor pre-test peserta sudah mencapai 97,2 dari 100. Bahkan, 15 dari 24 peserta memperoleh skor sempurna sejak awal. Karena itu, angka tersebut tidak menjadi ukuran utama keberhasilan lokakarya. Sebaliknya, nilai tambah lokakarya terlihat dari kemampuan peserta menerapkan konsep dalam situasi nyata.
Mereka belajar mendengarkan warga sebelum menentukan solusi. Selain itu, mereka belajar membedakan kebutuhan dengan bentuk bantuan dan membedakan gejala dengan akar masalah.Mereka juga belajar menguji asumsi serta memikirkan keberlanjutan program sejak awal. Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukan hanya berapa banyak kegiatan yang berhasil dilaksanakan, tetapi: Apa yang tetap berjalan ketika pendamping sudah pulang?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, laporan merekomendasikan beberapa langkah pada tahap berikutnya. Pertama, akar masalah perlu kembali diverifikasi langsung kepada warga. Kedua, indikator perubahan perilaku perlu diperjelas. Ketiga, peran penanggung jawab lokal perlu dipastikan sebelum pendampingan berakhir. Dengan demikian, keberhasilan Kindness to Progress tidak hanya dilihat dari jumlah kegiatan yang terlaksana. Lebih jauh, keberhasilan juga terlihat dari kemampuan masyarakat untuk melanjutkan perubahan secara mandiri. Perjalanan Kindness to Progress 2026 pun menjadi lebih dari sekadar rangkaian lokakarya. Program ini menunjukkan sebuah proses: mendengar sebelum merancang, memahami sebelum bertindak, dan membangun bersama sebelum meninggalkan.
Selanjutnya, perjalanan tersebut akan berlanjut dari Jakarta menuju Pekon Bumi Ratu. Lima gagasan yang telah dirancang akan kembali diuji dengan kondisi nyata di lapangan.Pada akhirnya, pemberdayaan masyarakat bukan tentang seberapa banyak program yang dapat diselesaikan. Pemberdayaan adalah tentang menciptakan kemampuan agar masyarakat dapat terus bergerak setelah program selesai. Ingin mengembangkan program pemberdayaan bersama? Hubungi admin kami untuk berdiskusi tentang peluang pengembangan program pemberdayaan yang berangkat dari kebutuhan masyarakat.




